Senin, 03 November 2014

Refleksi Kuliah Filsafat Prof. Dr. Marsigit, M.A , Kamis, 2 Oktober 2014

Para Penggenggam Bara Api

Pada saat masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD), pernah terjadi suatu kejadian dimana teman-teman berteriak “ninja.. ninja..!”, pada saat itu memang sedang marak tontonan yang memperlihatkan di dalamnya tokoh Ninja, baik dari film kartun, maupun legenda Jepang. Saya sendiri sangat menggemari serial kartun “Ninja Hatory” dan “Jiraiya”. Ketika itu yang terlintas di benak saya adalah sosok-sosok yang ada pada kedua film tersebut. Ternyata sewaktu saya lihat, mereka adalah seorang wanita berbaju besar, serba hitam, dan yang terlihat pada diri mereka hanyalah kedua matanya.
Seiring bertambahnya usia, lebih tepatnya saat duduk dibangku kuliah, sosok “ninja” tersebut kembali hadir. Tetapi saat itu ia hadir dalam bayangan yang menakutkan. Mungkin karena pengaruh negatif orang awam yang tidak bertanggung jawab. Sekedar berbicara berlandaskan nafsu semata, tanpa ilmu yang menyertai kalimat mereka. Mereka (para “ninja”) yang terbayang di dalam benak saya adalah sosok jahat yang arogan, gampang menyakiti, melukai, bahkan membunuh orang , atau yang sering dikenal dengan teroris. Itulah bayangan yang terbentuk dalam pikiran saya dari para “ninja” tersebut, yaitu para wanita yang memakai kain penutup kepala atau muka yang biasa disebut cadar.
Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkan saya dari pemikiran jahiliah. Berbagai macam persepsi negatif dari para “ninja” telah berubah seratus delapan puluh derajat menjadi para “penggenggam bara api”. Sosok yang tadinya menyeramkan berubah menjadi sosok yang mengagumkan. Memang benar, memakai tidaknya cadar bukan menjadi parameter iman seorang wanita. Budi pekertilah yang menjadi tolak ukur kesempurnaan iman seseorang. Saya hanya berusaha mencari yang terbaik, dan hasilnya saya serahkan sepenuhnya kepada-Nya. Saya yakin bahwa itulah yang terbaik. Allah lebih tahu tentang mana yang terbaik. Apa saja yang telah maupun akan saya dapatkan itulah yang terbaik, bahkan musibah yang menimpa saya. Insya Allah.
Banyak yang mempertanyakan, termasuk kedua orang tua saya. Tetapi saya sama sekali tidak menyalahkan siapapun, hanya memang saya yang belum pantas. Saya terus berusaha memantaskan diri, mencari hidayah-Nya. Hidayah Allah memang bisa datang dari siapa saja, segala sesuatunya merupakan kekuasaan Allah. Begitu pula dengan ilmu, segala macam ilmu merupakan kepunyaan Allah. Termasuk di dalamnya ilmu filsafat. Banyak ilmu yang di ajarkan oleh para ustad (ilmu agama) yang terkadang memang kurang masuk akal, saya menerimanya hanya karena harus beriman. Padahal yang namanya kebenaran (islam) selalu masuk akal, walaupun kita harus lebih mengedepankan iman daripada akal.
Dalam menjalani kuliah Filsafat yang diampu oleh Prof. Dr. Marsigit, MA, sering saya mendapat penjelasan mengenai ilmu-ilmu agama yang sebelumnya belum dapat saya mengerti. Subahanallah, padahal beliau mengajarkan ilmu filsafat (matematika), tetapi saya mendapatkan penjelasan mengenai ilmu agama. Ilmu spiritual (agama islam) memang puncak dari ilmu, dan ilmu filsafat terletak di bawahnya. Jadi apabila pemikiran filsafat sudah mulai keluar dari “jalur” spiritual, maka harus segera dikembalikan sebelum menyimpang. Semua ilmu memang milik Allah Ta’ala.
Suatu saat Prof. Marsigit menjelaskan: ““Jatuh pada...” itu merupakan Accident. Mulai dari yang kecil sampai yang besar, yang dekat sampai yang jauh, yang halus atau yang kasar, besar sampai yang kecil, pandangan mata saya ini kepada anda adalah accident. Jatuh pada bajumu, jatuh pada jilbabmu, jatuh pada rambutmu, maka untuk menghindari accident orang menggunakan cadar, supaya tidak terjadi kecelakaan.” Begitulah kira-kira penjelasan beliau.
Tidak tahu dari mana asalnya mengapa tiba-tiba beliau sampai menjelaskannya. Membuat saya teringat kembali akan sosoknya. Mungkin ini suatu pentunjuk/alasan mengapa harus memilihnya. Satu lagi alasan mengapa harus memilihnya. Sangat sedikit sekali pemahaman saya tentang cadar. Saya hanya mengetahui bahwa itu bukan sekedar budaya Timur (Arab) semata, melainkan merupakan salah satu syari’at Islam. Bahkan sebagian ulama berpendapat bahwa itu merupakan suatu kewajiban, dan sebagian lagi berpendapat bahwa itu merupakan sunnah. Allahu’alam.
“..........., supaya tidak terjadi kecelakaan.” Apapun alasan mereka mengenakan cadar, hanya Allah dan mereka saja yang tahu. Saya hanya tahu, bahwa mereka telah berusaha menjalankan salah satu syari’at islam. Kita, sebagai manusia hanya berhak menilai dari sisi luarnya saja. Pada zaman sekarang, zaman dimana finah menyerang secara bertubi-tubi, memakai cadar akan menjadi suatu hal yang berat bagi sebagian muslimah. Berbagai “kicauan” dari berbagai arah terus menghampiri mereka, yang akan menambah kadar iman, yang akan mengangkat derajat, apabila mereka sukses melaluinya. Ya, “para penggenggam bara api”, itulah sebutan bagi mereka yang berjuang menegakan syari’at, berjuang melaksanakan sunnah-sunnah Rasulullah Muhammad SAW. Seperti yang disebutkan dalam hadits,
“Akan datang kepada manusia suatu zaman, orang yang berpegang teguh pada agamanya seperti orang yang menggenggam bara api.” (HR.Tirmidzi. Dishahihkan Al-Albani dalam Shahihul Jami’ no.8002).
Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di menjelaskan ini, “Pada akhir zaman akan sedikit kebaikan dan sebab-sebabnya, merajalela keburukan dan sebab-sebabnya dan pada saat itu orang yang berpegang teguh dengan agama sangat sedikit jumlahnya. Yang sedikit ini berada dalam keadaan kesusahan (karena banyaknya fitnah) sebagaimana orang yang mengenggam bara api karena banyak yang menentang dan banyak fitnah yang menyesatkan, fitnah syubhat, keraguan, berpaling dari kebenaran, fitnah syahwat dan condongnya makhluk kepada dunia dan tenggelam dengan kemilau dunia baik dzahir dan batin.” (Bahjah Qulubil Abrar hal. 259, Dar Kutub Al-‘Ilmiyah, Beirut, cet. I, 1423 H)
Kuatkanlah kami dalam menghadapi setiap ujian-Mu dan dalam menjalani kehidupan ini ya Allah, aamiin.



Kamis, 16 Oktober 2014

Refleksi Kuliah Filsafat Prof. Dr. Marsigit, M.A , Kamis, 9 Oktober 2014





Arti Namaku

Saya sangat bersyukur lahir dari orang tua yang sangat menyayangi saya. Teringat waktu kecil kira-kira saat masih Taman Kanak-kanak (TK), saat itu orang-orang (khususnya Ayah) memanggil saya dengan  nama “danu” yaitu dari nama belakang saya (Romandanu). Walaupun dari keluarga Ayah dan Ibu terbiasa memanggil saya “eya”, yaitu dari nama “dera” dengan logat cadel ala anak kecil yang susah mengeja huruf “r”. Saat beranjak Sekolah Dasar (SD), karena mengikuti nama pada absen, teman-teman dan guru memanggil saya dengan nama “dera”, yaitu nama depan saya (Derapusa). Menginjak usia Sekolah Menengah Pertama (SMP), teman-teman dan guru tetap memanggil dengan nama depan karena mengikuti nama pada absen sekolah. Ketika setiap pertemuan pertama di kelas, saya merasa terganggu karena setiap Guru yang mengabsen pasti terhenti saat giliran saya. Setiap Guru yang mengabsen pasti menanyakan arti nama saya, padahal saat itu saya sendiri tidak mengetahuinya. Tidak tahu mengapa hal itu selalu terjadi saat giliran nama saya dipanggil, mungkin nama saya terdengar aneh. Kejadian itu terus berlangsung sampai menginjak usia Sekolah Menengah Atas (SMA), setiap Guru pasti terhenti saat absen sampai pada giliran saya, dan selalu menanyakan arti nama saya.
Kerena kejadian itu, saya menanyakan arti nama saya kepada Ibu saya. Ibu menceritakan, pada awalnya nama saya “Dera Romandanu”, Ibu saya yang memberikannya. Kemudian, Ayah menambahkan menjadi “Derapusa Mela Romandanu”. Tidak tahu mengapa, mungkin agar sama dengan saudara perempuan saya (Lalita Mela Sarianti), yang sama-sama mengandung kata “Mela” di dalamnya. Padahal menurut saya lebih keren nama yang pertama tadi (Dera Romandanu). Karena nama yang kedua (Derapusa Mela Romandanu) terdengar seperti nama anak perempuan, karena terdapat kata “mela” di dalamnya. Perasaan saya menjadi sedikit tidak terima. Kemudian Ibu lanjut menjelaskan apa arti nama saya. Derapusa Mela Romandanu, “Dera” berasal dari kata “era” yang berarti “zaman”, “pusa” berasal dari kata “puasa”, “mela” berasal dari kata “melati” yang berarti “suci”, “romandanu” berasal dari kata “ramadhan”. Jadi, Derapusa Mela Romandanu berarti “anak suci yang lahir pada zaman puasa ramadhan”, begitulah kira-kira penjelasan dari Ibu saya. Ketika para Guru-guru kembali terhenti dan menanyakan arti nama saya, saya menjelaskan sesuai dengan apa yang dijelaskan Ibu saya. Walaupun saya sendiri belum puas dengan penjelasan Ibu saya. Hal ini terus berlanjut bahkan sampai sekarang.
Pada saat mengikuti suatu mata kuliah, yaitu Filsafat Pendidikan Matematika yang diampuh oleh Prof. Dr. Marsigit, MA, beliau menjelaskan arti nama beliau. Yaitu “Marsigit”, yang berasal dari kata “mars” yang berarti planet Mars, “si” yang berarti “melihat”, dan “git” yang berarti “pintu gerbang”. Jadi arti nama “marsigit” menurut beliau adalah “pintu gerbang untuk melihat Mars”. Dapat diartikan pula sebagai suatu harapan yang tinggi, optimis, dan dapat melihat masa depan. Melalui “marsigit” diharapkan para murid (mahasiswa) mempunyai harapan yang tinggi, optimis dan dapat melihat masa depan mereka sendiri. Arti lain dari nama “marsigit” adalah “mar” yang berarti “samar”, “tersamar”, dan “tersembunyi”, karena ilmu itu bersifat tersembunyi, “sigit” yang berarti “tampan” atau “bagus”.  Dalam dunia perwayangan, manusia tampan yang mencari ilmu adalah Arjuna. Begitu kira-kira penjelasan beliau.
Kata-kata yang paling saya ingat dari Bapak Marsigit adalah “Orang tua yang memberi nama 'ga ngerti, tapi anak yang berusaha mencarinya, jangan malah menuntut, itulah cara berbakti kepada kedua orang tua!”. Berangkat dari situlah, saya berusaha mendefinisikan sendiri nama saya dengan definisi  yang dapat memotifasi saya agar menjadi seseorang yang lebih baik, walaupun mungkin berbeda dengan yang diinginkan  pemberinya (orang tua saya). “Derapusa Mela Romandanu” yang berarti “anak suci yang lahir pada zaman puasa ramadhan”, terlihat bahwa terdapat salah satu amalan sholeh yaitu “puasa” yang terkandung dalam kata “zaman puasa”, zaman (bulan) yang di dalamnya terdapat amalan sholeh puasa selama satu bulan penuh, yang umat islam biasa menyebutnya dengan bulan Ramadhan, yang juga disebutkan di dalam nama saya “romandanu = ramadhan”. Tidak lain dan tidak bukan, bahwa kedua orang tua saya mentargetkan pintu AR-RAYYAN  bagi saya, yaitu salah satu pintu surga dari delapan pintu yang ada, disediakan khusus bagi orang yang berpuasa. Dari Sahl bin Sa’ad radhiallahu’anhu, Nabi sholallahu’alaihi wassalam bersabda, “sesungguhnya di surga ada suatu pintu yang disebut Ar-Rayyan. Orang-orang yang berpuasa akan masuk melalui pintu tersebut pada hari kiamat. Selain orang yang berpuasa tidak akan memasukinya. Nanti orang yang berpuasa akan diseru, “Mana orang yang berpuasa?”. Lantas mereka pun berdiri, selain mereka tidak akan memasukinya. Jika orang yang berpuasa tersebut telah memasukinya, maka akan tertutup dan setelah itu tidak ada lagi yang memasukinya” (HR. Bukhari no. 1896 dan Muslim no. 1152).

Semoga Allah Ta’ala memudahkan kita untuk memasuki pintu tersebut dengan amalan puasa kita, dan semoga apa kami lakukan ini tercatat sebagai pahala disisi-Nya, aamiin.



Rabu, 08 Oktober 2014

Refleksi Kuliah Filsafat Prof. Dr. Marsigit, M.A , Kamis, 2 Oktober 2014


Allah ada dimana?
Awal mula tertarik Islam, seiring itu pula pergaulan saya berubah, teman-teman saya pun bertambah. Saya banyak bergaul dengan teman-teman yang sudah lebih dulu tertarik dengan Islam. Suatu hari salah satu teman saya (Kang Irfan) bertanya: “Dera.. menurut antum, Allah ada dimana?”. Saya terdiam, karena hal itu belum sama sekali terfikirkan. Karena Kang Irfan menunggu jawaban dari saya, maka saya jawab sepengetahuan saya, yaitu “Allah ada dimana-mana”. Kang Irfan pun tertawa. Mungkin kalau orang lain sudah mengganggap saya sesat, tetapi kang irfan tahu kalu saya cuma “anak kemarin sore”. Kang irfan pun menjelaskan dengan senang hati. Kalau Allah ada dimana-mana berarti Allah banyak dong? Allah ada di WC juga? : pertanyaan bertubi-tubi Kang Irfan yang membuat saya bengong. Allah Ta’ala berada dilangit : jawab Kang Irfan sendiri. Banyak dalil yang mengatakan demikian, salah satunya dari Al-Qur’an: (yaitu) Yang Maha Pengasih, yang bersemayam di atas ‘Arsy. (Thaha 20; 5), Al-Mulk surat ke -7 ayat 16 dan 17, dan masih banyak lagi dalil yang menerangkan bahwa Allah Ta’ala, tetapi saya lupa, hehehe.
Terus, bagaimana dengan hadits riwayat Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Tuhan kita yang Maha Suci lagi Maha Luhur setiap malam turun ke langit dunia ketika malam tinggal sepertiga terakhir. Dia berfirman: ‘Barang siapa yang berdo’a kepada-Ku, maka Aku akan kabulkan permohonannya. Dan barang siapa yang memohon ampunan kepada-Ku maka Aku akan mengampuninya’.” (Shahih Muslim no.1261)?: tanya Kang Irfan lagi. Ketika Allah Ta’ala turun dari ‘Arsy-Nya, bagaimana keadaan ‘Arsy-Nya, apakah kosong? Kan Allah sedang turun ke langit dunia?: kembali Kang Irfan bertanya, dan saya masih dalam keadaan bengong.
Akhirnya kang irfan kembali menjawab pertanyannya sendiri: Misalkan sebuah buku yang terletak diatas ranjang di ambil, kemudian di letakan di atas lemari. Jadi buku yang ada di atas ranjang menjadi tidak ada, dan di atas lemari yang tadinya tidak terdapat buku menjadi ada buku. Mengapa terjadi demikian? Karena buku dan semua yang ada di alam dunia ini terikat RUANG dan WAKTU. Dan Allah SWT tidak terikat dengan RUANG dan WAKTU, karena Allah Ta'ala-lah yang menciptakan RUANG dan WAKTU, jadi tidak mungkin pencipta terikat dengan ciptaannya sendiri. Jadi ketika Allah Ta’ala turun ke langit dunia, bukan berarti ‘Arsy-Nya kosong. Begitu kurang lebih penjelasan Kang Irfan.
Sebagai seorang muslim yang harusnya beriman, saya akan tetap berusaha percaya walaupun tidak ada penjelasan. Tetapi berdasarkan penjelasan Kang Irfan, saya menjadi bertanya-tanya tentang “RUANG dan WAKTU”. Subhanallah, setelah sekian lama memendam pertanyaan, ternyata jawabannya saya dapatkan dalam mata kuliah Filsafat yang di ampuh oleh Prof. Dr. Marsigit, MA. Beliau benjelaskan secara detail tentang “RUANG dan WAKTU”, serta memberikan hakikat “RUANG dan WAKTU” yang membuat saya teringat teringat Hadits dan ayat Al-Qur’an di atas, yang dijelaskan teman saya dahulu.
Yang paling saya ingat dari penjelasan Pak Marsigit adalah: “seandainya Tuhan berkehendak untuk menghancurkan dunia ini sangatlah mudah, cabut saja salah satu dari RUANG dan WAKTU”. Membayangkannya saja sangatlah mengerikan. Apabila WAKTU diambil, maka kita akan lahir dan mati sacara bersamaan. Tidak ada masa lampau dan masa mendatang. Kalau itu terjadi sudah pasti KIAMAT dunia ini. Untuk lebih jelasnya baca “Elegi Seorang Hamba Menggapai Ruang dan Waktu”.
Itulah sedikit cerita saya yang terinspirasi dari perkuliahan Prof. Dr. Marsigit, MA. Jadi sopanlah terhadap RUANG dan WAKTU!