Para Penggenggam Bara Api
Pada saat masih duduk di bangku Sekolah
Dasar (SD), pernah terjadi suatu kejadian dimana teman-teman berteriak “ninja..
ninja..!”, pada saat itu memang sedang marak tontonan yang memperlihatkan di dalamnya
tokoh Ninja, baik dari film kartun, maupun legenda Jepang. Saya sendiri sangat
menggemari serial kartun “Ninja Hatory” dan “Jiraiya”. Ketika itu yang
terlintas di benak saya adalah sosok-sosok yang ada pada kedua film tersebut.
Ternyata sewaktu saya lihat, mereka adalah seorang wanita berbaju besar, serba
hitam, dan yang terlihat pada diri mereka hanyalah kedua matanya.
Seiring bertambahnya usia, lebih tepatnya
saat duduk dibangku kuliah, sosok “ninja” tersebut kembali hadir. Tetapi saat
itu ia hadir dalam bayangan yang menakutkan. Mungkin karena pengaruh negatif
orang awam yang tidak bertanggung jawab. Sekedar berbicara berlandaskan nafsu
semata, tanpa ilmu yang menyertai kalimat mereka. Mereka (para “ninja”) yang terbayang
di dalam benak saya adalah sosok jahat yang arogan, gampang menyakiti, melukai,
bahkan membunuh orang , atau yang sering dikenal dengan teroris. Itulah
bayangan yang terbentuk dalam pikiran saya dari para “ninja” tersebut, yaitu
para wanita yang memakai kain penutup kepala atau muka yang biasa disebut cadar.
Segala puji bagi Allah yang telah
menyelamatkan saya dari pemikiran jahiliah. Berbagai macam persepsi negatif
dari para “ninja” telah berubah seratus delapan puluh derajat menjadi para
“penggenggam bara api”. Sosok yang tadinya menyeramkan berubah menjadi sosok
yang mengagumkan. Memang benar, memakai tidaknya cadar bukan menjadi parameter
iman seorang wanita. Budi pekertilah yang menjadi tolak ukur kesempurnaan iman seseorang.
Saya hanya berusaha mencari yang terbaik, dan hasilnya saya serahkan sepenuhnya
kepada-Nya. Saya yakin bahwa itulah yang terbaik. Allah lebih tahu tentang mana
yang terbaik. Apa saja yang telah maupun akan saya dapatkan itulah yang
terbaik, bahkan musibah yang menimpa saya. Insya
Allah.
Banyak yang mempertanyakan, termasuk
kedua orang tua saya. Tetapi saya sama sekali tidak menyalahkan siapapun, hanya
memang saya yang belum pantas. Saya terus berusaha memantaskan diri, mencari
hidayah-Nya. Hidayah Allah memang bisa datang dari siapa saja, segala
sesuatunya merupakan kekuasaan Allah. Begitu pula dengan ilmu, segala macam
ilmu merupakan kepunyaan Allah. Termasuk di dalamnya ilmu filsafat. Banyak ilmu
yang di ajarkan oleh para ustad (ilmu agama) yang terkadang memang kurang masuk
akal, saya menerimanya hanya karena harus beriman. Padahal yang namanya
kebenaran (islam) selalu masuk akal, walaupun kita harus lebih mengedepankan
iman daripada akal.
Dalam menjalani kuliah Filsafat yang
diampu oleh Prof. Dr. Marsigit, MA, sering saya mendapat penjelasan mengenai
ilmu-ilmu agama yang sebelumnya belum dapat saya mengerti. Subahanallah, padahal beliau mengajarkan ilmu filsafat (matematika),
tetapi saya mendapatkan penjelasan mengenai ilmu agama. Ilmu spiritual (agama
islam) memang puncak dari ilmu, dan ilmu filsafat terletak di bawahnya. Jadi
apabila pemikiran filsafat sudah mulai keluar dari “jalur” spiritual, maka
harus segera dikembalikan sebelum menyimpang. Semua ilmu memang milik Allah
Ta’ala.
Suatu saat Prof. Marsigit menjelaskan: ““Jatuh pada...” itu merupakan Accident.
Mulai dari yang kecil sampai yang besar, yang dekat sampai yang jauh, yang
halus atau yang kasar, besar sampai yang kecil, pandangan mata saya ini kepada
anda adalah accident. Jatuh pada bajumu, jatuh pada jilbabmu, jatuh pada
rambutmu, maka untuk menghindari accident orang menggunakan cadar, supaya tidak terjadi kecelakaan.” Begitulah kira-kira
penjelasan beliau.
Tidak tahu dari mana asalnya mengapa
tiba-tiba beliau sampai menjelaskannya. Membuat saya teringat kembali akan
sosoknya. Mungkin ini suatu pentunjuk/alasan mengapa harus memilihnya. Satu
lagi alasan mengapa harus memilihnya. Sangat sedikit sekali pemahaman saya
tentang cadar. Saya hanya mengetahui bahwa itu bukan sekedar budaya Timur
(Arab) semata, melainkan merupakan salah satu syari’at Islam. Bahkan sebagian
ulama berpendapat bahwa itu merupakan suatu kewajiban, dan sebagian lagi
berpendapat bahwa itu merupakan sunnah. Allahu’alam.
“...........,
supaya tidak terjadi kecelakaan.”
Apapun alasan mereka mengenakan cadar, hanya Allah dan mereka saja yang tahu. Saya
hanya tahu, bahwa mereka telah berusaha menjalankan salah satu syari’at islam. Kita,
sebagai manusia hanya berhak menilai dari sisi luarnya saja. Pada zaman sekarang,
zaman dimana finah menyerang secara bertubi-tubi, memakai cadar akan menjadi
suatu hal yang berat bagi sebagian muslimah. Berbagai “kicauan” dari berbagai arah
terus menghampiri mereka, yang akan menambah kadar iman, yang akan mengangkat
derajat, apabila mereka sukses melaluinya. Ya, “para penggenggam bara api”,
itulah sebutan bagi mereka yang berjuang menegakan syari’at, berjuang
melaksanakan sunnah-sunnah Rasulullah Muhammad SAW. Seperti yang disebutkan
dalam hadits,
“Akan
datang kepada manusia suatu zaman, orang yang berpegang teguh pada agamanya
seperti orang yang menggenggam bara api.”
(HR.Tirmidzi.
Dishahihkan Al-Albani dalam Shahihul Jami’ no.8002).
Syaikh
Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di menjelaskan ini, “Pada akhir zaman akan
sedikit kebaikan dan sebab-sebabnya, merajalela keburukan dan sebab-sebabnya
dan pada saat itu orang yang berpegang teguh dengan agama sangat sedikit
jumlahnya. Yang sedikit ini berada dalam keadaan kesusahan (karena banyaknya
fitnah) sebagaimana orang yang mengenggam
bara api karena banyak yang menentang dan banyak fitnah yang menyesatkan,
fitnah syubhat, keraguan, berpaling dari kebenaran, fitnah syahwat dan
condongnya makhluk kepada dunia dan tenggelam dengan kemilau dunia baik dzahir
dan batin.” (Bahjah Qulubil Abrar hal. 259, Dar Kutub Al-‘Ilmiyah, Beirut,
cet. I, 1423 H)
Kuatkanlah
kami dalam menghadapi setiap ujian-Mu dan dalam menjalani kehidupan ini ya
Allah, aamiin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar