Rabu, 08 Oktober 2014

Refleksi Kuliah Filsafat Prof. Dr. Marsigit, M.A , Kamis, 2 Oktober 2014


Allah ada dimana?
Awal mula tertarik Islam, seiring itu pula pergaulan saya berubah, teman-teman saya pun bertambah. Saya banyak bergaul dengan teman-teman yang sudah lebih dulu tertarik dengan Islam. Suatu hari salah satu teman saya (Kang Irfan) bertanya: “Dera.. menurut antum, Allah ada dimana?”. Saya terdiam, karena hal itu belum sama sekali terfikirkan. Karena Kang Irfan menunggu jawaban dari saya, maka saya jawab sepengetahuan saya, yaitu “Allah ada dimana-mana”. Kang Irfan pun tertawa. Mungkin kalau orang lain sudah mengganggap saya sesat, tetapi kang irfan tahu kalu saya cuma “anak kemarin sore”. Kang irfan pun menjelaskan dengan senang hati. Kalau Allah ada dimana-mana berarti Allah banyak dong? Allah ada di WC juga? : pertanyaan bertubi-tubi Kang Irfan yang membuat saya bengong. Allah Ta’ala berada dilangit : jawab Kang Irfan sendiri. Banyak dalil yang mengatakan demikian, salah satunya dari Al-Qur’an: (yaitu) Yang Maha Pengasih, yang bersemayam di atas ‘Arsy. (Thaha 20; 5), Al-Mulk surat ke -7 ayat 16 dan 17, dan masih banyak lagi dalil yang menerangkan bahwa Allah Ta’ala, tetapi saya lupa, hehehe.
Terus, bagaimana dengan hadits riwayat Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Tuhan kita yang Maha Suci lagi Maha Luhur setiap malam turun ke langit dunia ketika malam tinggal sepertiga terakhir. Dia berfirman: ‘Barang siapa yang berdo’a kepada-Ku, maka Aku akan kabulkan permohonannya. Dan barang siapa yang memohon ampunan kepada-Ku maka Aku akan mengampuninya’.” (Shahih Muslim no.1261)?: tanya Kang Irfan lagi. Ketika Allah Ta’ala turun dari ‘Arsy-Nya, bagaimana keadaan ‘Arsy-Nya, apakah kosong? Kan Allah sedang turun ke langit dunia?: kembali Kang Irfan bertanya, dan saya masih dalam keadaan bengong.
Akhirnya kang irfan kembali menjawab pertanyannya sendiri: Misalkan sebuah buku yang terletak diatas ranjang di ambil, kemudian di letakan di atas lemari. Jadi buku yang ada di atas ranjang menjadi tidak ada, dan di atas lemari yang tadinya tidak terdapat buku menjadi ada buku. Mengapa terjadi demikian? Karena buku dan semua yang ada di alam dunia ini terikat RUANG dan WAKTU. Dan Allah SWT tidak terikat dengan RUANG dan WAKTU, karena Allah Ta'ala-lah yang menciptakan RUANG dan WAKTU, jadi tidak mungkin pencipta terikat dengan ciptaannya sendiri. Jadi ketika Allah Ta’ala turun ke langit dunia, bukan berarti ‘Arsy-Nya kosong. Begitu kurang lebih penjelasan Kang Irfan.
Sebagai seorang muslim yang harusnya beriman, saya akan tetap berusaha percaya walaupun tidak ada penjelasan. Tetapi berdasarkan penjelasan Kang Irfan, saya menjadi bertanya-tanya tentang “RUANG dan WAKTU”. Subhanallah, setelah sekian lama memendam pertanyaan, ternyata jawabannya saya dapatkan dalam mata kuliah Filsafat yang di ampuh oleh Prof. Dr. Marsigit, MA. Beliau benjelaskan secara detail tentang “RUANG dan WAKTU”, serta memberikan hakikat “RUANG dan WAKTU” yang membuat saya teringat teringat Hadits dan ayat Al-Qur’an di atas, yang dijelaskan teman saya dahulu.
Yang paling saya ingat dari penjelasan Pak Marsigit adalah: “seandainya Tuhan berkehendak untuk menghancurkan dunia ini sangatlah mudah, cabut saja salah satu dari RUANG dan WAKTU”. Membayangkannya saja sangatlah mengerikan. Apabila WAKTU diambil, maka kita akan lahir dan mati sacara bersamaan. Tidak ada masa lampau dan masa mendatang. Kalau itu terjadi sudah pasti KIAMAT dunia ini. Untuk lebih jelasnya baca “Elegi Seorang Hamba Menggapai Ruang dan Waktu”.
Itulah sedikit cerita saya yang terinspirasi dari perkuliahan Prof. Dr. Marsigit, MA. Jadi sopanlah terhadap RUANG dan WAKTU!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar