Allah ada dimana?
Awal mula tertarik Islam, seiring itu
pula pergaulan saya berubah, teman-teman saya pun bertambah. Saya banyak bergaul
dengan teman-teman yang sudah lebih dulu tertarik dengan Islam. Suatu hari
salah satu teman saya (Kang Irfan) bertanya: “Dera.. menurut antum, Allah ada
dimana?”. Saya terdiam, karena hal itu belum sama sekali terfikirkan. Karena Kang Irfan menunggu jawaban dari saya, maka saya jawab sepengetahuan saya,
yaitu “Allah ada dimana-mana”. Kang Irfan pun tertawa. Mungkin kalau orang lain
sudah mengganggap saya sesat, tetapi kang irfan tahu kalu saya cuma “anak
kemarin sore”. Kang irfan pun menjelaskan dengan senang hati. Kalau Allah ada dimana-mana berarti Allah
banyak dong? Allah ada di WC juga? : pertanyaan bertubi-tubi Kang Irfan
yang membuat saya bengong. Allah Ta’ala
berada dilangit : jawab Kang Irfan sendiri. Banyak dalil yang mengatakan
demikian, salah satunya dari Al-Qur’an: (yaitu)
Yang Maha Pengasih, yang bersemayam di
atas ‘Arsy. (Thaha 20; 5), Al-Mulk surat ke -7 ayat 16 dan 17, dan
masih banyak lagi dalil yang menerangkan bahwa Allah Ta’ala, tetapi saya lupa, hehehe.
Terus, bagaimana dengan hadits riwayat
Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Tuhan kita yang Maha Suci lagi Maha Luhur setiap malam turun ke langit dunia ketika malam
tinggal sepertiga terakhir. Dia berfirman: ‘Barang siapa yang berdo’a
kepada-Ku, maka Aku akan kabulkan permohonannya. Dan barang siapa yang memohon
ampunan kepada-Ku maka Aku akan mengampuninya’.” (Shahih Muslim no.1261)?:
tanya Kang Irfan lagi. Ketika Allah
Ta’ala turun dari ‘Arsy-Nya, bagaimana keadaan ‘Arsy-Nya, apakah kosong? Kan
Allah sedang turun ke langit dunia?: kembali Kang Irfan bertanya, dan saya
masih dalam keadaan bengong.
Akhirnya kang irfan kembali menjawab
pertanyannya sendiri: Misalkan sebuah
buku yang terletak diatas ranjang di ambil, kemudian di letakan di atas lemari.
Jadi buku yang ada di atas ranjang menjadi tidak ada, dan di atas lemari yang
tadinya tidak terdapat buku menjadi ada buku. Mengapa terjadi demikian? Karena buku
dan semua yang ada di alam dunia ini terikat RUANG dan WAKTU. Dan Allah SWT tidak
terikat dengan RUANG dan WAKTU, karena Allah Ta'ala-lah yang menciptakan RUANG
dan WAKTU, jadi tidak mungkin pencipta terikat dengan ciptaannya sendiri. Jadi
ketika Allah Ta’ala turun ke langit dunia, bukan berarti ‘Arsy-Nya kosong.
Begitu kurang lebih penjelasan Kang Irfan.
Sebagai seorang muslim yang harusnya
beriman, saya akan tetap berusaha percaya walaupun tidak ada penjelasan. Tetapi
berdasarkan penjelasan Kang Irfan, saya menjadi bertanya-tanya tentang “RUANG
dan WAKTU”. Subhanallah, setelah sekian lama memendam pertanyaan, ternyata
jawabannya saya dapatkan dalam mata kuliah Filsafat yang di ampuh oleh Prof.
Dr. Marsigit, MA. Beliau benjelaskan secara detail tentang “RUANG dan WAKTU”,
serta memberikan hakikat “RUANG dan WAKTU” yang membuat saya teringat teringat
Hadits dan ayat Al-Qur’an di atas, yang dijelaskan teman saya dahulu.
Yang paling saya ingat dari penjelasan
Pak Marsigit adalah: “seandainya Tuhan
berkehendak untuk menghancurkan dunia ini sangatlah mudah, cabut saja salah
satu dari RUANG dan WAKTU”. Membayangkannya saja sangatlah mengerikan.
Apabila WAKTU diambil, maka kita akan lahir dan mati sacara bersamaan. Tidak
ada masa lampau dan masa mendatang. Kalau itu terjadi sudah pasti KIAMAT dunia
ini. Untuk lebih jelasnya baca “Elegi Seorang Hamba Menggapai Ruang dan Waktu”.
Itulah
sedikit cerita saya yang terinspirasi dari perkuliahan Prof. Dr. Marsigit, MA.
Jadi sopanlah terhadap RUANG dan WAKTU!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar