Arti
Namaku
Saya
sangat bersyukur lahir dari orang tua yang sangat menyayangi saya. Teringat
waktu kecil kira-kira saat masih Taman Kanak-kanak (TK), saat itu orang-orang
(khususnya Ayah) memanggil saya dengan nama “danu”
yaitu dari nama belakang saya (Romandanu). Walaupun dari keluarga Ayah dan Ibu
terbiasa memanggil saya “eya”, yaitu
dari nama “dera” dengan logat cadel ala anak kecil yang susah mengeja huruf
“r”. Saat beranjak Sekolah Dasar (SD), karena mengikuti nama pada absen,
teman-teman dan guru memanggil saya dengan nama “dera”, yaitu nama depan saya (Derapusa). Menginjak usia Sekolah
Menengah Pertama (SMP), teman-teman dan guru tetap memanggil dengan nama depan
karena mengikuti nama pada absen sekolah. Ketika setiap pertemuan pertama di
kelas, saya merasa terganggu karena setiap Guru yang mengabsen pasti terhenti
saat giliran saya. Setiap Guru yang mengabsen pasti menanyakan arti nama saya,
padahal saat itu saya sendiri tidak mengetahuinya. Tidak tahu mengapa hal itu
selalu terjadi saat giliran nama saya dipanggil, mungkin nama saya terdengar
aneh. Kejadian itu terus berlangsung sampai menginjak usia Sekolah Menengah
Atas (SMA), setiap Guru pasti terhenti saat absen sampai pada giliran saya, dan
selalu menanyakan arti nama saya.
Kerena
kejadian itu, saya menanyakan arti nama saya kepada Ibu saya. Ibu menceritakan,
pada awalnya nama saya “Dera Romandanu”, Ibu saya yang memberikannya. Kemudian, Ayah
menambahkan menjadi “Derapusa Mela Romandanu”. Tidak tahu mengapa, mungkin agar
sama dengan saudara perempuan saya (Lalita Mela Sarianti), yang sama-sama
mengandung kata “Mela” di dalamnya. Padahal menurut saya lebih keren nama yang
pertama tadi (Dera Romandanu). Karena nama yang kedua (Derapusa Mela Romandanu)
terdengar seperti nama anak perempuan, karena terdapat kata “mela” di dalamnya.
Perasaan saya menjadi sedikit tidak terima. Kemudian Ibu lanjut menjelaskan apa
arti nama saya. Derapusa Mela Romandanu, “Dera” berasal dari kata “era” yang
berarti “zaman”, “pusa” berasal dari kata “puasa”, “mela” berasal dari kata
“melati” yang berarti “suci”, “romandanu” berasal dari kata “ramadhan”. Jadi,
Derapusa Mela Romandanu berarti “anak suci yang lahir pada zaman puasa
ramadhan”, begitulah kira-kira penjelasan dari Ibu saya. Ketika para Guru-guru
kembali terhenti dan menanyakan arti nama saya, saya menjelaskan sesuai dengan
apa yang dijelaskan Ibu saya. Walaupun saya sendiri belum puas dengan
penjelasan Ibu saya. Hal ini terus berlanjut bahkan sampai sekarang.
Pada
saat mengikuti suatu mata kuliah, yaitu Filsafat Pendidikan Matematika yang
diampuh oleh Prof. Dr. Marsigit, MA, beliau menjelaskan arti nama beliau. Yaitu
“Marsigit”, yang berasal dari kata “mars” yang berarti planet Mars, “si” yang
berarti “melihat”, dan “git” yang berarti “pintu gerbang”. Jadi arti nama “marsigit”
menurut beliau adalah “pintu gerbang untuk melihat Mars”. Dapat diartikan pula
sebagai suatu harapan yang tinggi, optimis, dan dapat melihat masa depan.
Melalui “marsigit” diharapkan para murid (mahasiswa) mempunyai harapan yang
tinggi, optimis dan dapat melihat masa depan mereka sendiri. Arti lain dari
nama “marsigit” adalah “mar” yang berarti “samar”, “tersamar”, dan
“tersembunyi”, karena ilmu itu bersifat tersembunyi, “sigit” yang berarti
“tampan” atau “bagus”. Dalam dunia
perwayangan, manusia tampan yang mencari ilmu adalah Arjuna. Begitu kira-kira
penjelasan beliau.
Kata-kata
yang paling saya ingat dari Bapak Marsigit adalah “Orang tua yang memberi nama 'ga ngerti, tapi anak yang berusaha
mencarinya, jangan malah menuntut, itulah cara berbakti kepada kedua orang tua!”.
Berangkat dari situlah, saya berusaha mendefinisikan sendiri nama saya dengan
definisi yang dapat memotifasi saya agar
menjadi seseorang yang lebih baik, walaupun mungkin berbeda dengan yang
diinginkan pemberinya (orang tua saya).
“Derapusa Mela Romandanu” yang berarti “anak suci yang lahir pada zaman puasa
ramadhan”, terlihat bahwa terdapat salah satu amalan sholeh yaitu “puasa” yang
terkandung dalam kata “zaman puasa”, zaman (bulan) yang di dalamnya terdapat
amalan sholeh puasa selama satu bulan penuh, yang umat islam biasa menyebutnya
dengan bulan Ramadhan, yang juga disebutkan di dalam nama saya “romandanu =
ramadhan”. Tidak lain dan tidak bukan, bahwa kedua orang tua saya mentargetkan
pintu AR-RAYYAN bagi saya, yaitu salah satu pintu surga dari delapan pintu yang ada,
disediakan khusus bagi orang yang berpuasa. Dari Sahl bin Sa’ad
radhiallahu’anhu, Nabi sholallahu’alaihi wassalam bersabda, “sesungguhnya di surga ada suatu pintu yang
disebut Ar-Rayyan. Orang-orang yang berpuasa akan masuk melalui pintu tersebut
pada hari kiamat. Selain orang yang berpuasa tidak akan memasukinya. Nanti
orang yang berpuasa akan diseru, “Mana orang yang berpuasa?”. Lantas mereka pun
berdiri, selain mereka tidak akan memasukinya. Jika orang yang berpuasa
tersebut telah memasukinya, maka akan tertutup dan setelah itu tidak ada lagi
yang memasukinya” (HR. Bukhari no. 1896 dan Muslim no. 1152).
Semoga Allah Ta’ala
memudahkan kita untuk memasuki pintu tersebut dengan amalan puasa kita, dan
semoga apa kami lakukan ini tercatat sebagai pahala disisi-Nya, aamiin.